Rabu, 10 Oktober 2012

makalah penelitian eceng gondok


BIOBRIKET ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF  BERBASIS MASYARAKAT YANG RAMAH LINGKUNGAN











PENYUSUN :
 ANTON PRIYADI
NIM : 2119110113






PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
TAHUN 2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya serta shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena bimbingan dan jalan kemudahan dariNya karya ilmiah dengan berjudul Biobriket Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Sebagai Bahan Bakar Alternatif Berbasis Masyarakat yang Ramah Lingkungandapat terselesaikan.
Karya ilmiah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Biologi. Selain itu karya ilmiah ini yang mengangkat ide pembuatan biobriket dari eceng gondok merupakan tawaran solusi atas pendayagunaan salah satu sumber bahan bakar alternatif dari biomassa (bahan-bahan organik). Hal ini mengingat semakin berkurangnya ketersediaan energi yang berasal dari minyak ataupun gas bumi.
Terselesaikannya karya ilmiah ini juga atas bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1.      Bapak H.Hendriawan, Drs,MM. selaku Dosen mata kuliah Biologi Umum.
2.      Berbagai pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu terimakasih atas bantuannya.
Semoga bantuan dari Bapak/ Ibu dan Sdr/ Sdri menjadi suatu ladang amal dan diberikan balasan yang lebih baik dari Allah SWT.
“Tiada gading yang tak retak” sebagaimana karya ilmiah ini yang masih belum sempurna. Namun demikian penyusun hanya bisa berusaha untuk memberikan yang terbaik. Semoga dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.

                                                                                       


Hormat kami,

                                                                                                               Penyusun



DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar................................................................................................................ i
Daftar Isi.......................................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 3
C. Tujuan Penulisan ........................................................................................................ 3
D. Manfaat Penulisan ..................................................................................................... 3
E. Definisi Operasional ................................................................................................... 4
F. Kerangka Berpikir....................................................................................................... 4
BAB II. PEMBAHASAN
A. Dekripsi Tanaman Eceng Gondok.............................................................................. 5
B. Bio Briket.................................................................................................................... 8
C. Cara Pembuatan Biobriket Tanaman Eceng Gondok................................................. 10
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................................ 13
B. Saran .......................................................................................................................... 13
Daftar Pustaka
Lampiran












BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Saat ini manusia telah memasuki era globalisasi. Di era golabalisasi ini energi memiliki peran yang sangat signifikan bagi kehidupan manusia. Hal ini dapat diapresiasi pada saat kita menyadari bahwa energi terlibat dalam semua aktivitas di bumi. Apabila kita mengkonsumsi energi bebas di sekitar berarti akan mengurangi jumlah energi bebas yang tersedia untuk masa depan. Kehidupan modern saat ini menimbulkan konsumsi energi secara besar-besaran oleh manusia untuk berbagai kepentingan.
Energi adalah suatu kapasitas untuk melakukan kerja. Kapasitas ini tersedia dalam berbagai bentuk dan sumber. Minyak dan gas bumi, batubara, nuklir, air ataupun angin hanyalah sedikit dari berbagai sumber energi yang kita kenal dan manfaatkan. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat, berada pada posisi ke 20 pada tingkat konsumsi energi dunia dengan total konsumsi sebesar 1,1% dari total energi dunia. Perbandingan sumber-sumber energi dari sepuluh konsumen energi terbesar dunia tersebut bisa dilihat pada Tabel 1 dengan tambahan data konsumsi energi Indonesia.
Tabel 1: Komposisi sumber energi dari 10 negara konsumen energi terbesar dunia, ditambah dengan Indonesia sebagai perbandingan (dalam juta ton)*.

http://web.archive.org/web/20060225043359/http:/www.beritaiptek.com/images/brian.JPG 












                         Sumber: BP Statistical Review of World Energy,  2005
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan batubara yang besar, yaitu sekitar 8,8 milyar ton dimana 70 persen merupakan batubara muda dan 30 persen sisanya adalah batubara kualitas tinggi dan diperkirakan akan habis dalam 150 tahun kedepan. Perlu diketahui cadangan minyak dan gas bumi Indonesia makin menipis dan diperkirakan dalam beberapa dasa warsa  mendatang habis. Hal ini hendaknya disadari oleh segenap lapisan masyarakat sehingga penggunaan bahan bakar unrenewable untuk kepentingan bangsa dapat terus dipantau dan diperhatikan bersama-sama (Imam Budi Raharjo, 2006).
Menurut Agusman Effendi, seorang  anggota Dewan Energi Nasional (DEN), bahwa saat ini Indonesia telah mengalami defisit energi. Konsumsi nasional bahan bakar minyak (BBM) mencapai 1,4 juta barel per hari (bph). Sebesar 35% dihabiskan untuk menggerakkan transportasi. Sisanya untuk menciptakan energi listrik dan memutar roda industri di pabrik-pabrik. Industri lain yang juga butuh energi adalah industri kelistrikan, baja, kimia, dan petrokimia serta rumah tangga.
Pada saat ini, ketersediaan energi listrik mencapai 30 gigawatt (GW). Pada 2025, kebutuhan listrik diprediksi mencapai 150 GW. Namun, pada 2050 dengan penduduk sekitar 345 juta jiwa kebutuhan listrik nasional diramalkan menembus angka 450 GW sebagaimana di negara maju. Bisa dibayangkan sulitnya mencari sumber energi primer untuk pembangkit listrik. Guna mencukupi listrik 10 tahun ke depan yakni 120 GW jika tetap mengandalkan energi primer dari bahan fosil seperti minyak, gas bumi, dan batu bara bakal gagal. Kedepan cadangan energi fosil makin menipis, ongkos eksploitasi tinggi, dan dihadang pengurangan emisi CO2. (G.A. Guritno, 2010).
Kebutuhan rata-rata energi listrik di Jawa Tengah (Jateng) hingga 2013 diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 8,7 persen setiap tahun. Tahun ini kebutuhan listrik di Jateng mencapai sekitar 14.000 gigawatt per hour (GwH). Berbagai langkah disiapkan untuk mengupayakan pencapaian target, khususnya melalui kebijakan rencana umum kelistrikan daerah. Di sisi penyediaan energi, diupayakan peningkatan produksi melalui optimalisasi pembangkit yang ada termasuk mendorong pendayagunaan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. (Suara Karya, 15 Juli 2010).
Selain itu, ketersediaan minyak bumi yang semakin berkurang mendorong pemerintah mengalakkan program konversi minyak bumi ke gas LPG. Adanya konversi ini sangat menguntungkan warga karena harga LPG yang lebih murah jika dibandingkan dengan minyak tanah. Namun LPG juga merupakan energi yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan semakin lama akan semakin habis. Oleh karena itu pendayagunaan energi alternatif sangat dibutuhkan. Terlebih akhir-akhir ini sering terjadi ledakan tabung gas LPG, membuat kekhawatiran pada sebagian warga. Hal ini membuat banyak warga di berbagai daerah beralih ke kayu bakar untuk memasak.
Sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui (renewable energy) di Indonesia relatif lebih banyak, satu diantaranya adalah biomassa ataupun bahan-bahan limbah organik. Biomassa ataupun bahan-bahan limbah organik ini dapat diolah dan dijadikan sebagai bahan bakar alternatif. Salah satu contohnya adalah eceng gondok (Eichhornia crassipes).
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat dimanfaatkan pada pembuatan biobriket?
2.      Bagaimana cara pembuatan biobriket dari eceng gondok (Eichhornia crassipes)?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apakah eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat dimanfaatkan pada pembuatan biobriket sebagai bahan bakar alternatif.
2.      Untuk mengetahui cara pembuatan biobriket dari eceng gondok (Eichhornia crassipes).
D.    Manfaat Penulisan
1.      Bagi perkembangan ilmu pengetahuan
Memberikan pengetahuan tentang cara memanfaatkan tanaman eceng gondok sebagai salah satu sumber energi alternatif yaitu berupa biobriket.
2.      Bagi masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang cara memanfaatkan tanaman eceng gondok untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan dapat dipergunakan sebagai salah satu sumber energi alternatif.
E.     Definisi Operasional
1.      Biobriket yang dimaksud dalam penulisan karya ilmiah ini  adalah bahan bakar padat yang berasal dari biomassa atau bahan-bahan organik khususnya tumbuh-tumbuhan.
2.      Energi alternatif yang dimaksud dalam penulisan karya ilmiah ini  adalah energi pengganti khususnya berupa bahan bakar untuk memasak guna kepentingan penghematan energi serta pendayagunaan energi yang ramah lingkungan
F.     Kerangka Berpikir
Energi merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup, khususnya manusia. Energi tersebut dapat berasal dari SDA yang dapat diperbaharui ataupun dari SDA yang tidak dapat diperbaharui. Sekarang ini energi yang berasal SDA yang tidak dapat diperbaharui sudah sangat minim keberadaannya. Seperti halnya bahan bakar minyak yang sekarang ini sudah sangat langka. Padahal, bahan bakar tersebut sangat dibutuhkan oleh manusia, contohnya adalah bensin, solar, minyak tanah, gas LPG, dll.
Seiring berjalannya waktu, jumlah manusia di muka bumi ini terus meningkat, padahal jumlah energi yang disediakan alam semakin berkurang. Oleh karena jumlah manusia semakin bertambah, kebutuhan energipun akan bertambah. Salah satu cara yang harus dilakukan manusia untuk mengantisipasi kekurangan energi adalah dengan “menghemat energi.” Bicara tentang “penghematan energi,” adalah satu cara yang dapat di tempuh yaitu dengan energi elternatif.
Energi alternatif yang bagus adalah yang hasil sampingannya tidak merusak keseimbangan lingkungan. Energi yang dimaksud adalah dalam bentuk biobriket. Agar hasil sampingan biobriket yang berupa asap tidak merusak keseimbangan lingkungan, maka biobriket tersebut sebaiknya terbuat dari biomassa. Biomassa adalah bahan-bahan  organik yang berasal dari alam,yang salah satunya adalah eceng gondok.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Tanaman Eceng Gondok
a.      Taksonomi tanaman Eceng Gondok
                                         


Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan          : Plantae
Divisi               :
Magnoliophyta
Kelas               :
Liliopsida
Ordo                :
Commelinales
Famili              :
Pontederiaceae
Genus              : Eichhornia
Nama binomial:
Eichhornia crassipes
(
Mart.) Solms

Gambar 1. Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes)
b.      Struktur morfologi tanaman Eceng Gondok
Eceng gondok merupakan herba yang mengapung, kadang-kadang berarak dalam tanah, menghasilkan tunas merayap yang keluar dari ketiak daun yang dapat tumbuh lagi menjadi tumbuhan baru dengan tinggi 0,4-0,8 m, tumbuhan ini memiliki bentuk fisik berupa daun-daun yang tersusun dalam bentuk radikal (roset). Setiap tangkai pada helaian daun yang dewasa memiliki ukuran pendek dan berkerut. Helaian daun (lamina) berbentuk bulat telur lebar dengan tulang daun yang melengkung rapat panjang 7-25 cm, gundul dan warna daun hijau licin mengkilat (Moenandir, 1990). Lebih lanjut Masan (1981) menerangkan, bahwa kerangka bunga berbentuk bulir, bertangkai panjang,berbunga 10-35, tangkai dengan dua daun pelindung yang duduknya sangat dekat, yang terbawa dengan helaian kecil dan pelepah yang berbentuk tabung dan bagian atas juga berbentuk tabung.
Poros bulir sangat bersegi, tabung tenda bunga 1,5-2 cm panjangnya dengan pangkal hijau dan ujung pucat. Taju sebanyak 6 masing-masing tidak sama ukurannya, lila panjang 2-3 cm, taju belakang yang terbesar dengan noda ditengah-tengah berwarna kuning cerah. Benang sari 6,bengkok, tiga dari benang sari tersebut lebih besar dari yang lain. Bakal buah beruang tiga dan berisi banyak. Tangkai daun pada Eceng gondok bersifat mendangkalkan dan membangun spon yang membuat tumbuhan ini mengambang.
Eceng gondok berkembang biak dengan stolon (vegetatif) dan juga secara generatif. Perkembangbiakan secara vegetatif mempunyai peranan penting dalam pembentukan koloni. Perkembangbiakan tergantung dari kadar O2 yang terlarut dalam air. Moenandir (1990) menyebutkan, bahwa pada konsentrasi 3,5-4,8 ppm perkembangbiakan Eceng gondok dapat berjalan dengan cepat.
c.       Kondisi lingkungan yang dibutuhkan tanaman Eceng Gondok
Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat mentolerir perubahan yang ekstrim dari ketinggian air, laju air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur dan racun-racun dalam air. Tanaman eceng gondok hidup pada ketinggian tempat berkisar antara 0-1600 m di atas permukaan laut yang beriklim tropis dan sub tropis, kecuali pada daerah yang beriklim dingin.Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat dan potasium (Laporan FAO). Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau.
d.      Kerugian tanaman Eceng Gondok
Akibat-akibat negatif yang ditimbulkan eceng gondok antara lain:
1.      Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat.
2.      Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens).
3.      Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.
4.      Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
5.      Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.
6.      Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.
e.       Kegunaan tanaman Eceng Gondok
Eceng gondok memiliki karakter yang sangat unik untuk dikaji, hal ini merupakan suatu anugerah Tuhan dengan kata lain “Tidaklah aku ciptakan sesuatu yang tanpa berguna, kecuali hanya sedikit pengetahuan yang dimiliki oleh manusia”. Walaupun eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat. Rangkaian penelitian seputar kemampuan eceng gondok oleh peneliti Indonesia antara lain oleh Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan logam lain. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 persen. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida. Dari segi teknologi bahwa Eceng gondok memiliki kadar serat yang tinggi. Serat tersebut dapat dimanfaatkan secara komersiil baik secara tradisional sampai industri yang mutakhir.
Selain itu ada beberapa manfaat lain dari tanaman eceng gondok yaitu :
1.      Bahan Baku Pulp dan Kertas
2.      Bahan Baku Pupuk Organik
3.      Sumber Pakan Ternak dan Ikan
4.      Bahan Baku Kerajinan Tangan
f.       Komposisi kimia tanaman Eceng Gondok
Dari hasil penelitian yang di lakukan oleh Winarno (1993), menyebutkan bahwa hasil analisa kimia dari Eceng gondok dalam keadaan segar diperoleh bahan organik 36,59%, C organik 21,23%, N total 0,28%, P total 0,0011% dan K total 0,016%. Lebih lanjut Joejodibroto (1983) mengemukakan hasil analisa komponen kimia Eceng gondok yang tidak digiling ternyata mengandungkadar abu 12% dan setelah digiling menjadi 0,65%. Selanjutnya zat ekstraktif juga mengalami penurunan setelah digiling.
B.     Biobriket
a.      Pengertian
Biobriket atau briket biomassa atau disebut pula briket bioarang adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yang mempunyai bentuk tertentu. Menurut Basriyanta biomassa limbah industri, hutan, perkebunan, pertanian, dan sampah merupakan semua bahan baku biobriket, sebagai sumber energi alternatif terbesar. Potensi energi biomassa mencapai 885-juta gigajoule per tahun. Sampah organik salah satu sumber biomassa potensial dalam bentuk padat atau biobriket, gas (biogas), dan bentuk cair (bioliquid) sebagai bahan bakar organik ramah lingkungan.
Dalam jangka panjang, penggunaan biobriket yang ramah lingkungan menjadi pengganti bahan bakar minyak bumi. Berikut ini tabel nilai kalori yang dikandung oleh beberapa jenis bahan bakar:
            Tabel 2. Nilai kalori bahan bakar di Indonesia
NO
BAHAN BAKAR
NILAI KALORI (kal/gr)
1
Minyak bumi mentah
10.081,22
2
Bahan bakar minyak
10.224,56
3
Gas alam
9.755, 89
4
Biobriket
7.047,30
5
Batubara
6.999,52
6
Batubara muda
1.877,24
7
Kayu kering
4.491,16
                                                                (Media Indonesia, 2010)
Beberapa tipe/ bentuk briket yang umum dikenal antara lain: bantal (oval), sarang tawon (honey comb), silinder (cylinder), telur (egg) dan lain-lain. Secara umum beberapa spesifikasi briket yang dibutuhkan oleh konsumen adalah sebagai berikut:
1)      Daya tahan briket
2)      Ukuran dan bentuk yang sesuai untuk penggunaannya
3)      Bersih, tidak berasap terutama untuk sektor rumah tangga.
4)      Bebas gas-gas berbahaya
5)      Sifat pembakaran yang sesuai dengan kebutuhan (kemudian dibakar, efisiensi energi, pembakaran yang stabil).
b.      Teknologi pembriketan
Proses pembriketan adalah proses pengolahan yang mengalami perlakuan penggerusan, pencampuran bahan baku, pencetakan dan pengeringan pada kondisi tertentu, sehingga diperoleh briket yang mempunyai bentuk, ukuran fisik, dan sifat kimia tertentu. Tujuan dari pembriketan adalah untuk meningkatkan kualitas bahan sebagai bahan bakar, mempermudah penanganan dan transportasi serta mengurangi kehilangan bahan dalam bentuk debu pada proses pengangkutan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pembriketan antara lain:
1)      Ukuran dan distribusi partikel.
2)      Kekerasan bahan.
3)      Sifat elastisitas dan plastisitas bahan. (Hasjim, 1991).
Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan briket antara lain:
1)      Bahan baku
Briket dapat dibuat dari bermacam-macam bahan baku, seperti ampas tebu, sekam padi, serbuk gergaji, limbah ampas aren dll.  Bahan utama yang harus terdapat di dalam bahan baku adalah selulosa. Semakin tinggi kandungan selulosa semakin bagus kualitas briketnya.
2)      Bahan pengikat
Untuk merekatkan partikel-partikel zat dalam bahan baku pada proses pembuatan briket maka diperlukan zat pengikat sehingga dihasilkan briket yang kompak.
Secara umum proses pembuatan briket melalui tahap penggerusan, pencampuran, pencetakan, pengeringan, dan pengepakan.
1)      Penggerusan adalah menggerus bahan baku briket untuk mendapatkan ukuran butir tertentu.
2)      Pencampuran adalah mencampur bahan baku briket pada komposisi tertentu untuk mendapatkan adonan yang homogen.
3)      Pencetakan adalah mencetak adonan untuk mendapatkan bentuk tertentu yang sesuai dengan keinginan.
4)      Pengeringan adalah proses mengeringkan briket dengan menggunakan udara/ panas pada tenperatur tertentu untuk menurunkan kandungan air briket.
5)      Pengepakkan adalah pengemasan produk sesuai dengan spesifikasi kualitas dan kuantitas yang telah ditentukan.
Beberapa parameter kualitas briket yang akan mempengaruhi pemanfaatannya antara lain: kandungan air, kandungan abu, kandungan zat terbang,  dan nilai kalor.
c.       Standar kualitas briket bioarang
Saat ini belum ada suatu standar kulaitas briket bioarang. Namun, persyaratan briket arang kayu menurut Sudrajat (1982) adalah:
Fixed Carbon        >          60 %
Kadar abu             <          8 %
Nilai kalor             >          6000 cal/ gr
Kerapatan              >          0,7 gr/ cm3
d.      Manfaat biobriket
Dengan penggunaan briket arang sebagai bahan bakar maka kita dapat menghemat penggunaan kayu sebagai hasil utama dari hutan. Selain itu penggunaan briket arang dapat menghemat pengeluaran biaya untuk membeli minyak tanah atau gas elpiji. Dengan memanfaatkan serbuk gergaji sebagai bahan pembuatan briket arang maka akan meningkatkan pemanfaatan limbah hasil hutan sekaligus mengurangi pencemaran udara, karena selama ini limbah ampas batang aren yang ada hanya dibakar begitu saja. Manfaat lainnya adalah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat bila pembuatan briket arang ini dikelola dengan baik untuk selanjutnya briket arang dijual.
C.    Cara pembuatan biobriket tanaman eceng gondok
Dari fakta dan data yang ada menunjukkan bahwa pemakaian bahan bakar fosil saat ini semakin meningkat, jumlah cadangan semakin menipis, harga yang tidak stabil (cenderung terus meningkat) dan isu-isu bahwa bahan bakar fosil menyebabkan pemanasan global serta penyebab terjadinya kerusakan lingkungan sudah mulai terbukti. Upaya untuk mengeliminasi kemungkinan terburuk dampak pemakaian bahan bakar fosil yaitu dengan pengembangan sumber energi terbarukan menjadi salah satu alternatif pengganti bahan bakar fosil.
Kekayaan alam Indonesia menjadi pertimbangan utama konversi energi minyak dan gas ke biomassa. Biomassa merupakan bahan alami yang biasanya dianggap sebagai sampah dan sering dimusnahkan dengan cara dibakar. Perlu diketahui bahwa Indonesia merupakan negara agraris terbesar yang akan mampu memasok sumber bahan baku biomassa, baik dari budidaya hayati maupun limbah pertanian, peternakan, dan perkebunan. Sumber energi biomassa mempunyai keuntungan antara lain :
1.      Sumber energi ini dapat dimanfaatkan secara terus-menerus karena sifatnya yang renewable resources.
2.      Sumber energi ini relatif tidak mengandung unsur sulfur, sehingga tidak menyebabkan polusi udara sebagaimana yang terjadi pada bahan bakar fosil.
3.      Pemanfaatan energi biomassa juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah pertanian, peternakan, dan perkebunan.
Oleh karena itu berbagai bahan organik saat ini dicoba untuk digunakan sebagai penghasil energi alternatif, misalnya sebagai bahan bakar (biobriket). Terlebih limbah yang dihasilkan oleh suatu aktivitas/ usaha produksi manusia akan lebih baik jika kita manfaatkan sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar. Berbagai limbah yang telah diteliti dapat menghasilkan energi atau sebagai bahan bakar alternatif antara lain: jerami, ampas tebu, sekam, limbah ampas batang aren, serbuk gergaji dll.
Adapun proses pembuatan biobriket dari tanaman eceng gondok adalah sebagai berikut:
1.      Pertama, eceng gondok diiris-iris lalu digiling dengan mesin penggiling sederhana. Air perasannya dipisahkan dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sementara ini eceng gondok dimanfaatkan untuk pupuk tanaman hias, bukan untuk sayuran, karena khawatir ada B3 Irisan eceng gondok dicampur dengan tanah liat, kapur, dan serbuk gergaji.
2.      Setelah itu, campuran tadi dimasukkan ke dalam silinder pencetak yang berdiameter 15 sentimeter. Setelah dijemur tiga hari, briket eceng gondok pun bisa langsung digunakan. Dengan ditambah sedikit minyak tanah, briket akan segera membara dan siap untuk memasak.
Briket bisa juga dibakar sehingga menjadi bio arang. Dengan kandungan karbon yang lebih tinggi dan kadar air yang terkurangi, mutu bio arang ini lebih baik dibanding briketnya. Selain ramah lingkungan, briket dan bio arang ini lebih harum dan sedikit asapnya.
Sayangnya, waktu menyalanya relatif singkat sekitar 10 menit saja untuk 3-4 briket ataupun bio arang. Namun limbah hasil pembakaran briket atau bio arang masih bisa dimanfaatkan untuk abu gosok atau pembuatan telur asin, sehingga tak ada yang terbuang.
Menurut data nilai kalori yang terkandung pada berbagai bahan bakar bahwa biobriket memiliki nilai kalor cukup tinggai yaitu rata-rata 7.047,30 kal/gram. Nilai kalor biobriket tersebut menempati urutan ke-3 setelah minyak bumi mentah, bahan bakar minyak dan gas alam. Hal ini berarti memenuhi standar Jepang maupun standar Amerika. (Media Indonesia, 2010)
Akan tetapi kandungan kalor dari biomasa yang lebih rendah menyebabkan jumlah briket yang diperlukan untuk keperluan yang sama relatif lebih banyak dibanding batubara dan minyak tanah. Hal ini dapat diatasi dengan teknik karbonisasi guna meningkatkan nilai kalor dari briket biomassa. Selain itu dengan mengatur kandungan volatil yang cocok, briket biomassa relatif lebih mudah dinyalakan daripada briket batubara. Bau yang dikeluarkan dari pembakaran biobriket juga tidak terlalu menyengat sebagaimana bau yang dikeluarkan selama pembakaran biobriket. 
Sifat-sifat penting dari biobriket yang mempengaruhi kualitas bahan bakar adalah sifat fisik dan kimia. Sifat fisik biobriket dapat diperoleh dari proses pembuatan mulai dari  pemilihan bahan hingga hasil berupa biobriket yang siap digunakan. Ukuran partikel arang juga memberikan pengaruh pada kualitas biobriket. Arang yang dihasilkan dari karbonisasi tanaman eceng gondok dinilai cukup bagus karena limbah ampas yang belum dikarbonisasi sudah memiliki ukuran partikel dengan diameter kecil sehingga mempercepat pada proses karbonisasi.
Dengan demikian adanya pembuatan biobriket dari tanaman eceng gondok dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam upaya penghematan energi dan penanggulangan pencemaran lingkungan.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
·         Tanaman eceng gondok berpotensi besar untuk dimanfaatkan pada pembuatan biobriket.
·         Cara pembuatan biobriket dari tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah sebagai berikut:
·         Pertama, eceng gondok diiris-iris lalu digiling dengan mesin penggiling sederhana. Air perasannya dipisahkan dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sementara ini eceng gondok dimanfaatkan untuk pupuk tanaman hias, bukan untuk sayuran, karena khawatir ada B3 Irisan eceng gondok dicampur dengan tanah liat, kapur, dan serbuk gergaji.
·         Setelah itu, campuran tadi dimasukkan ke dalam silinder pencetak yang berdiameter 15 sentimeter. Setelah dijemur tiga hari, briket eceng gondok pun bisa langsung digunakan. Dengan ditambah sedikit minyak tanah, briket akan segera membara dan siap untuk memasa.
B.     Saran
Kami selaku penulis berharap penulisan tentang pembuatan biobriket dari tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat :
1.    memberikan pengetahuan kepada penulis khususnya dan bagi kita mahasiswa pada umumnya.
2.    memberikan masukan kepada pemerintah agar dapat mensosialisasikan biobriket yang berbahan dasar tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) kepada masyarakat, dan ada penelitian lebih lanjut tentang komposisi bahan pembuatan biobriket dari tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) untuk diperoleh hasil yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2008). Karakteristik Eceng Gondok
http://id.wikipedia.org/wiki/Eceng_gondok Diakses pada hari Selasa/ 1 November 2011 Pukul 14.10 WIB.
______ (2010). Meneropong Konsumsi Energi Dunia (Bagian Kedua).
Diakses pada hari Rabu/ 2 November 2011 pukul  17.05 WIB.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar